twitter
    Find out what I'm doing, Follow Me :)

Sabtu, 04 Juni 2011

Luqman Al-Hakim



Luqman al-Hakim Seorang Pengembala Yang di Abadikan Dalam Al-Quran



















LUQMAN AL-HAKIM. Seorang ahli hikmah dari negeri Habasyah (Ethiopia). Kata "Luqman" dalam Al-Qur'an disebut dua kali, yaitu pada surah Luqman ayat 12 dan 13. Surah Luqman merupakan surah ke-31 yang terdiri atas 34 ayat dan termasuk golongan surah Makkiyyah (diturunkan di Mekah). Ia diturunkan sesudah surah as-Saffdt. Dinamai surah Luqman karena intinya memuat nasihat Luqman kepada anaknya. Nasihat itu tertuang pada ayat 13-19.

Dalam ilmu tata bahasa Arab, nama "Luqman" setimbang dengan kata "Usman" atau "Umran". Nama lengkapnya, Luqman bin Baura, anak dari saudara perempuan Nabi Ayyub AS (riwayat lain mengatakan anak dari bibi Nabi Ayyub AS), keturunan Azar (ayah Nabi Ibrahim AS; QS.6:74) dari Bani Israil. Diperkirakan ia hidup pada masa Nabi Ayyub AS. Ia dianugerahi umur yang panjang -menurut hikayat, sampai 1.000 tahun- sehingga sempat menjumpai Nabi Daud AS. Ada riwayat yang mengatakan ia adalah seorang hakim di kalangan Bani Israil.


Menurut Ikrimah dan asy-Sya'abi (keduanya ahli tafsir), Luqman termasuk salah seorang nabi yang diutus Allah SWT. Pendapat ini dibantah oleh Ibnu Abbas RA (sahabat Nabi SAW, w. 68 H) yang menegaskan bahwa Luqman bukanlah nabi, bukan pula raja, melainkan seorang penggembala kulit hitam yang kemudian dianugerahi Allah SWT de­ngan ilmu hikmah, kemudian namanya diabadikan dalam Al-Qur'an. Pendapat Ibnu Abbas RA ini didukung oleh jumhur ulama yang sepakat bahwa Luqman bukan nabi, tetapi seorang ahli hikmah.

Karena dalam Al-Qur'an ia dinyatakan sebagai orang yang diberi hikmah oleh Allah SWT, ia pun digelari Luqman al-Hakim, artinya "Luqman yang dianugerahi hikmah." Hikmah artinya ilmu tentang hakikat dan kemampuan untuk melaksanakan amal yang terpuji. Tentang hikmah yang dianugerahkan kepada Luqman, at-*Tabari (w. 310 H/923 M) da­lam tafsirnya Jdmi' al-BayanfiTafsir Al-Qur'an mengisahkan antara lain sebagai berikut: "Pada suatu ketika Luqman diperintahkan menyembelih seekor kambing, lalu ia diminta mengeluarkan bagian mana yang paling baik dari tubuh kambing ter­sebut. Tanpa berpikir panjang ia segera mengambil hati dan lidah kambing itu. Kemudian dalam kesempatan berikutnya ia diminta lagi memotong se­ekor kambing. Setelah itu, kepadanya diperintah­kan menunjukkan bagian mana yang paling buruk. Dengan spontan ia mengeluarkan hati dan lidah kambing tersebut. Tentang kedua pilihannya itu ia menjelaskan bahwa dalam diri makhluk, terutama manusia, ada dua bagian yang paling menentukan. yaitu hati dan lidahnya. Kalau keduanya baik, berarti baik pula manusianya. Demikian pula sebalik-nya."

Dalam tafsir al-Kasysyaf (karya az-*Zamakhsyari w. 538 H/1144 M) dijelaskan bahwa Luqman ada­lah seorang laki-laki yang berkulit sangat hitam Pada masa Nabi SAW banyak bangsa kulit hitam yang memeluk agama Islam lalu orang-orang Arab melecehkan mereka. Nabi SAW tidak senang dengan sikap orang-orang Arab tersebut, lalu bersabda: "Jadikanlah orang-orang kulit hitam itu sebagai pemimpin, karena kelak tiga dari orang kulit hitam akan menjadi pemimpin ahli surga. Mereka adalah Luqman al-Hakim, Mahja' (budak *Umar bin Khattab), dan *Bilal bin Rabah" (HR. Ibnu Abbas).

Di samping kulitnya yang sangat hitam, dalam kitab tafsir itu juga digambarkan bahwa Luqman mempunyai muka yang amat buruk dengan dua bibir yang sangat tebal. Tetapi, di balik keburukan wajahnya tersimpan hati yang amat tulus dan akhlak yang terpuji, serta dari bibirnya yang tebal senantiasa meluncur untaian kalimat yang penuh makna. la tidak banyak berbicara. Ketika hal itu ditanyakan, ia menjawab bahwa diam itu hikmah, tetapi tidak semua orang dapat melakukannya. Al-Qur'an mengungkapkan Luqman dalam dua konteks:

Pertama,
Luqman sebagai orang yang dikaruniai hikmah lalu bersyukur kepada Allah SWT atas karunia-Nya itu. Hal ini termaktub pada surah Luqman ayat 12 yang artinya: "Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: 'Bersyukur-lah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji'." Para ulama tafsir menjelaskan bahwa ayat ini mengingatkan manusia akan perlu-nya mensyukuri nikmat Allah SWT, karena keba-nyakan manusia lupa bersyukur jika diberi nikmat. Padahal, dalam konteks ayat tersebut dijelaskan bahwa jika manusia bersyukur atas rahmat Allah SWT, manfaat dari kesyukurannya itu akan ter-pulang kepada dirinya. Sebaliknya jika manusia ti­dak bersyukur, akibatnya pun akan terpulang kepa­da dirinya, sebab Allah SWT Maha Kaya dan Maha Terpuji tidak membutuhkan puji syukur manusia.

Kedua,
dalam konteks seorang ayah yang mem-berikan pelajaran dan pendidikan agama dan budi-pekerti kepada anaknya. Nama anaknya yang di­beri nasihat itu An'am atau Asykam. Para ulama menafsirkannya sebagai isyarat dari Allah SWT supaya setiap ayah dan ibu melaksanakan hal yang sama terhadap anak-anak mereka sebagaimana di-lakukan oleh Luqman. Isi nasihat Luqman kepada anak-anaknya antara lain sebagai berikut.

(1)  Larangan mempersekutukan Allah SWT, ka­rena perbuatan ini merupakan dosa paling besar yang tidak akan mendapat ampunan dari Allah SWT. Nasihat ini termaktub dalam surah Luqman ayat 13: "Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: 'Hai anakku, janganlah kamu memper­sekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kelaliman yang besar'."

(2)  Perintah beramal saleh, karena setiap amal akan mendapat balasan dari Allah SWT sampai kepada amal yang sekecil-kecilnya, seperti termak­tub dalam surah Luqman ayat 16 yang artinya: "(Luqman berkata): 'Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (mem-balasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui'."

(3)  Perintah mendirikan salat, berbuat kebajik-an, dan bersabar. Nasihat ini terangkum dalam su­rah Luqman ayat 17 yang artinya: "Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari per­buatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang de-mikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)."

(4)   Larangan bersikap sombong dan angkuh. Surah Luqman ayat 18 menjelaskan: "Dan jangan­lah kamu memalingkan mukamu dari manusia (ka­rena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri."
(5)   Perintah untuk bersikap sederhana, seperti tertuang dalam surah Luqman ayat 19 yang artinya: "Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lu-nakkanlah suaramu. Sesunguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai."

sumber : ensiklopedi islam,www.pesantrengarogol.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar